Monday, July 26, 2010

limbah tapioka bisa jadi ethanol























Salah satu jenis industri yang cukup banyak menghasilkan limbah adalah pabrik pengolahan tepung tapioka. Dari proses pengolahan singkong menjadi tepung tapioka, dihasilkan limbah sekitar 2/3 bagian atau sekitar 75% dari bahan mentahnya. Dimana limbah tersebut berupa limbah padat yang biasa disebut onggok (ampas singkong) dan lindur
Mengingat tingginya volume limbah hasil produksi tersebut, maka akan sangat menguntungkan sekiranya limbah tersebut dapat dimanfaatkan menjadi produk yang lebih berdaya guna. Dalam hal ini ampas singkong dan lindur dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan etanol karena kandungan karbohidrat yang tersisa pada limbah tepung tapioka tersebut masih banyak.





Tepung tapioka yang dibuat dari ubi kayu mempunyai banyak kegunaan, antara lain sebagai bahan pembantu dalam berbagai industri. Dibandingkan dengan tepung jagung, kentang dan gandum atau terigu, komposisi zat gizi tepung tapioka cukup baik. Tapioka juga banyak digunakan sebagai bahan pengental, bahan pengisi dan bahan pengikat dalam industri makanan, seperti dalam pembuatan puding, sop, makanan bayi, es krim, pengolahan sosis daging, industri farmasi, dan lain-lain.Hidrolisa adalah reaksi zat organik atau anorganik dengan air. Air akan terdekomposisi menjadi dua ion dan bereaksi dengan senyawa lain, ion hidrogen membentuk satu komponen, sedang ion hidroksil membentuk senyawa lain. Hidrolisa dengan air murni berlangsung lambat dan hasil reaksi tidak komplit, sehingga perlu ditambahkan katalis untuk mempercepat reaksi dan meningkatkan selektifitas (Groggins, 1958). Fermentasi alkohol merupakan pembentukan etanol dan CO2 dari piruvat hasil glikolisis glukosa secara anaerobik (Lehninger, 1982). Pada tahun 1815, Gay-Lussac memformulasikan konversi glukosa menjadi etanol dan karbondioksida. Formulanya sebagai berikut :
C6H12O6 2C2H5OH + 2CO2
Dalam fermentasi alkohol, satu molekul glukosa hanya dapat menghasilkan 2 molekul ATP, sedangkan dengan respirasi aerob satu molekul glukosa mampu menghasilkan 38 molekul ATP
● Reaksinya :
glikolisis
1. Gula (C6H12O6) ————> asam piruvat (glikolisis)
2. Dekarbeksilasi asam piruvat yaitu piruvat yang dihasilkan dari pemecahan

glukosa kehilangan gugus karboksilat oleh kerja piruvat dekarboksilase
(Lehninger, 1982). Reaksi ini merupakan dekarboksilasi sederhana dan tidak melibatkan oksidasi total piruvat dan tidak bersifat tidak balik dalam sel.
Asam piruvat ———————————> asetaldehid + CO2
piruvat dekarboksilase (CH3CHO)

3. Asetaldehid oleh alkohol dihidrogenase diubah menjadi alkohol (etanol).
2 CH3CHO + 2 NADH2 —————> 2C2H5OH + 2 NAD
Alcohol dehidrogenase enzim
• Sehingga reaksinya menjadi:
C6H12O6 ———> 2 C2H5OH + 2 CO2 + 2 NADH2 + Energi

Mikroba Fermentasi
Mikroorganisme memerlukan media yang mengandung nutrisi tertentu untuk tumbuh. Mikroorganisme yang ditumbuhkan pada media baru pada umumnya tidak segera berkembang, tetapi memerlukan waktu penyesuaian. Jika faktor lingkungan memungkinkan, maka mikroorganisme akan berkembang dengan kecepatan lambat, kemudian meningkat menjadi cepat Syarat-syarat yang dipergunakan dalam memilih ragi untuk fermentasi, adalah : cepat berkembang biak, tahan terhadap alkohol tinggi, tahan terhadap suhu tinggi,mempunyai sifat yang stabil, cepat mengadakan adaptasi terhadap media yang difermentasikan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi fermentasi
a. Nutrisi (zat gizi)
Dalam kegiatannya ragi memerlukan penambahan nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan, misalnya :
− Unsur C : ada pada karbohidrat
− Unsur N : dengan penambahan pupuk yang mengandung nitrogen,

ZA, Urea.
− Unsur P : penambahan pupuk fospat dari NPK, TSP, DSp dll

b. Keasaman (pH)
Untuk fermentasi alkohol, ragi memerlukan media suasana asam, yaitu antara pH 4 – 5. Pengaturan pH dilakukan penambahan asam sulfat jika substratnya alkalis atau natrium bikarbonat jika substratnya asam.
c. Temperatur
Temperature optimum untuk dan pengembangbiakan adalah 27 – 300C pada waktu fermentasi, terjadi kenaikan panas karena ekstrem. Untuk mencegah agar suhu fermentasi tidak naik, perlu pendinginan supaya suhu dipertahankan tetap 27 - 300C.
d.Volume starter
Pada umumnya volume starter yang digunakan sekitar 5% dari volume larutan fermentasi. Hal ini dikarenakan pada volume starter yang lebih kecil dari 5% maka kecepatan fermentasi kecil, sedangkan pada volume starter yang lebih besar dari 5% kektifan yeast berkurang karena alkohol yang terbentuk pada awal fermentasi sangat banyak sehingga fermentasi lebih lama dan banyak glukosa yang tidak terfermentasikan.
e. Udara
Fermentasi alkohol berlangsung secara anaerobik (tanpa udara). Namun demikian, udara diperlukan pada proses pembibitan sebelum fermentasi, untuk pengembangbiakan ragi sel.




Metodologi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Bioproses Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, pada bulan November-Desember 2008. Adapun bahan yang digunakan yaitu limbah padat ampas singkong dan lindur, Saccharomyces cereviceae, HCl, akuades, natrium karbonat, NaOH, amonium phospat, dan dinitrosalisylic acid. Sedangkan alat yang digunakan antara lain : peralatan penggilingan (blender), autoclaf, unit fermentasi, erlenmeyer, gelas ukur, dan inkubator shaker.Variabel yang diuji dalam penelitian ini adalah kadar etanol yang dihasilkan oleh ampas singkong dan lindur dengan waktu fermentasi selama 9 hari, sampel diambil setiap hari untuk analisa kadar etanol yang hasilnya tercantum pada Tabel 2
Sumber bahan yaitu ampas singkong dan lindur diperoleh dari Desa Sidomukti, Kecamatan Margoyoso, Pati. Dimana kandungan pati pada industri tapioka di daerah tersebut masih banyak.
Langkah pertama adalah bahan yang berupa ampas singkong dan lindur yang telah dikeringkan dihidrolisa dengan menggunakan HCl 0.5N. Berikutnya membuat starter dari biakan murni Saccharomyces cereviceae dan diaerasi selama 24 jam. Menyiapkan media fermentasi, 300 ml sampel
hasil hidrolisa diatur pHnya 4-5 ditambahkan starter 5% V, untuk mendapatkan kadar etanol optimum sampel difermentasikan selama 9 hari pada inkubator shaker, suhu fermentasi 27-30oC, kecepatan pengadukan 100 rpm. Hasil fermentasi dicentrifuge pada 3000 rpm selama 15 menit,selanjutnya sampel diambil untuk analisa kadar etanol. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk mengetahui kadar etanol yang dihasilkan dan dianalisa dengan gas kromatografi. Respon yang didapat adalah kadar etanol yang terkandung dalam media pada fermentasi hari ke 1 sampai hari ke 9.








Grafik 1. Grafik Kalibrasi Konsentrasi Glukosa
Dari grafik di atas didapatkan kadar glukosa yang terkandung dalam lindur sebesar 0.898 gram. Sedangkan kadar glukosa yang terkandung dalam ampas sebesar 0.841 gram. Disini kandungan glukosa lindur lebih besar dari ampas karena lindur merupakan limbah padat sisa pengendapan dalam pembuatan tapioka. Sehingga dimungkinkan kandungan karbohidratnya masih banyak sedangkan ampas merupakan bahan sisa pemerasan/ ekstraksi singkong yang kandungan karbohidratnya lebih sedikit daripada lindur sehingga hasil hidrolisa yang didapat kadar glukosa lindur lebih besar daripada ampas sigkong
Bahan dengan konsentrasi glukosa tinggi mempunyai efek negative pada yeast, baik pada pertumbuhan maupun aktifitas fermentasinya. Kadar glukosa yang baik berkisar 10-18%. Apabila terlalu pekat, aktifitas enzim akan terhambat sehingga waktu fermentasi menjadi lama.Disamping itu terdapat sisa gula yang tidak terpakai dan jika terlalu encer maka hasinya berkadar alkohol rendah.

2. Kadar Etanol




Dari grafik dapat dilihat bahwa kadar etanol meningkat seiring bertambahnya waktu fermentasi, sesuai dengan kurva pertumbuhan mikroba dimana fase deselarasinya (pertumbuhan optimal) terjadi pada hari ke 7 fermentasi dengan kadar etanol pada lindur 1.84% berat dan ampas singkong 1.66% berat. disini kadar etanol yang dihasilkan lindur lebih besar daripada kadar etanol ampas singkong karena konsentrasi glukosa lindur lebih besar
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
1. Konsentrasi glukosa pada lindur sebanyak 0.898 gram dan ampas singkong sebanyak 0.841gr
2. Kadar etanol paling tinggi didapat pada hari ke 7 yaitu lindur 1,84% berat dan ampas singkong 1,66% berat
3. Yield etanol yang didapat hari ke 7 yaitu lindur 0.0184 % berat dan ampas singkong 0.0166 % berat.
Saran
1. Saat hidrolisa suhu harus sampai optimum agar glukosa yang di hasilkan maksimum
2. Fermentasi di lakukan pada ruang yang steril

Sumber : Retnowati,D dan Sutanti,R-Pemanfaatan Limbah Padat Ampas Singkong dan Lindur Sebagai Bahan Baku Pembuatan Etanol-Makalah Penelitian UNDIP-2009




No comments:

Post a Comment